Honesty Nurizza Pinanti

Semangat Excellent With Morality!

HESPro (Homey Elementary School Program): Satu Langkah Kecil Mengurai Benang Kusut Budaya Pendidikan Indonesia

18 December 2015 - dalam Essai Oleh honesty-nurizza-p-fst14

Sejak tahun 1972, The International Commision for Education
Development dari UNESCO telah menegaskan kepada bangsa-bangsa di seluruh
dunia bahwa untuk membangun dan berusaha memperbaiki keadaan sebuah
bangsa, harus dimulai dengan pendidikan sebab pendidikan adalah kunci
perbaikan menuju peradaban. Oleh karenanya, pendidikan kini bukan hanya
menjadi hak pribadi yang wajib dipenuhi bagi tiap individu. Akan tetapi,
pendidikan juga merupakan hak milik bangsa. Pendidikan merupakan solusi bagi
permasalahan bangsa yang tiada akhir seperti kemiskinan dan kriminalitas. Dalam
mewujudkannya, pemerintah Indonesia telah menetapkan tujuan pendidikan
nasional dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 3 yaitu
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. Namun, apakah tujuan tersebut kini telah menjadi nyata atau masih
sekadar angan-angan yang entah kapan terwujudnya?
Mari kita tengok realitas yang terjadi di lapangan. Sistem pendidikan yang
diterapkan di Indonesia masih memiliki orientasi yang jauh lebih kuat di ranah
kognitif. Sementara ranah kognitif tidak mencangkup proses kreativitas dan
problem solving. Dalam proses pembelajaran, mereka hanya dituntut menghafal,
memahami, menerapkannya dalam soal. Tak sedikit dari siswa yang tidak
mengerti bagaimana implementasi ilmu yang mereka pelajari pada kehidupan
sehari-hari. Meski demikian, mereka selalu dituntut untuk mendapatkan nilai
tinggi. Akibatnya mereka mengalami krisis motivasi sebab keinginan belajar tidak
datang dari dalam diri. Selain itu, pendidikan Indonesia juga cenderung
mengesampingkan softskill. Padahal softskill berhubungan erat dengan emotional
intelligence (EQ) dan spiritual intelligence (SQ). Pembelajaran nilai dan moral di
sekolah berjalan membosankan karena hanya berisi ceramah dan hafalan. Tak
heran apabila kenakalan remaja seperti sex bebas, tawuran, dan penyalahgunaan
narkoba begitu marak di lingkungan sekolah.
2
Apabila kita ingin meramalkan kondisi suatu bangsa di masa yang akan
datang, maka kita perlu melihat pada generasi mudanya di masa sekarang. Tiga
puluh tahun lagi, bangsa Indonesia akan menginjak usia yang ke 100. Pada saat
itu pula, akan terjadi suatu momentum langka yang diharapkan dapat menjadi titik
kebangkitan bangsa. Indonesia Emas 2045 akan diwarnai dengan bonus demografi
yakni ketika jumlah penduduk usia produktif (45-54 tahun) mencapai jumlah
maksimum apabila dibandingkan dengan penduduk usia anak-anak dan orang tua.
Sayangnya, bonus demografi dapat berbalik menjadi musibah apabila tidak ada
perubahan yang diusahakan pada generasi muda. Perbaikan di bidang pendidikan
menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Diperlukan tekad yang kuat dari
seluruh elemen bangsa untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional demi
menyongsong Indonesia Emas 2045.
Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk mempersiapkan generasi
muda yang ideal bagi terwujudnya Indonesia Emas 2015 adalah pendidikan
karakter. Pendidikan karakter mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui
kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan
melakukan kebaikan (doing the good) (Lickona, 1991). Isu pendidikan karakter
kini menjadi konsentrasi utama pemerintah dalam memperbaiki bidang
pendidikan sebab kemerosotan moral di kalangan generasi muda kian
memprihatikan. Pada Juli 2015 lalu, pemerintah telah mencanangkan secara resmi
Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) sebagai salah satu upayanya.
Berdasarkan Peraturan Menteri 23/2015 tentang Penumbuhan Budi
Pekerti, Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti merupakan pembiasaan bertujuan
untuk menciptakan iklim sekolah yang menyenangkan bagi seluruh warga sekolah
dan menumbuhkan budi pekerti anak bangsa. Implementasi Gerakan PBP
dilakukan dengan mengarahkan siswa mengerjakan serangkaian kegiatan wajib
dan contoh pembiasaan baik selama di lingkungan sekolah.
Dengan keyakinan mampu menjadi pelengkap bagi Gerakan PBP, penulis
menawarkan suatu program solutif untuk mendukung tercapainya tujuan
pendidikan nasional dengan menghapuskan budaya negatif yang selama ini
tumbuh subur di lingkungan sekolah. HESPro (Homey Elementary School
3
Program) merupakan serangkaian program pendidikan karakter yang dapat
diterapkan di tingkat pendidikan setara sekolah dasar yang bertujuan untuk
mencetak generasi bangsa yang kreatif, bebas, dan bermoral sejak dini. Tak
ubahnya Gerakan PBP yang menginginkan terwujudnya lingkungan sekolah bak
taman bermain, HESPro berusaha menciptakan suasana belajar ‘seperti di rumah’
yaitu aman, nyaman, menyenangkan, dan kondusif sehingga berdampak positif
bagi psikologis dan motivasi belajar siswa. Program ini diimplementasikan
dengan mengedukasi pelaku pendidikan mengenai urgensi tercapainya tujuan
pendidikan bagi kemajuan bangsa serta metode-metode kreatif yang dapat
diterapkan di lingkungan sekolah. Program yang bersifat pembinaan sekaligus
pengawasan secara kontinu ini diharapan dapat membasmi budaya negatif
pendidikan Indonesia. Uji coba dilaksanakan selama satu semester untuk melihat
perubahan yang terjadi. Kemudian pihak sekolah sendiri yang akan memutuskan
untuk terus mengimplementasikannya atau tidak.
Budaya negatif seperti apa yang ingin HESPro hapuskan? Penerapan
sistem pembelajaran yang tidak lagi relevan dan lingkungan yang kurang
mendukung motivasi belajar siswa ternyata mengakibatkan munculnya kebiasaan
buruk di lingkungan sekolah. Misalnya, kebiasaan mencontek yang disebabkan
oleh sistem penilaian yang lebih melihat hasil daripada proses. Akibatnya, siswa
akan cenderung berlomba-lomba mendapat nilai yang tinggi. Persaingan seperti
ini berpotensi menjadi kompetisi yang tidak sehat. Kebiasaan buruk yang
dilakukan secara terus menerus akan menjelma menjadi budaya. Budaya negatif di
lingkungan pendidikan seperti cenderung lebih mengutamakan hasil dibandingkan
proses, menyukai hal-hal yang bersifat monoton daripada dinamis, dan
mementingkan kepentingan pribadi diatas umum apabila dibiarkan, lama
kelamaan akan mendarah daging dalam diri siswa. Tak heran apabila dewasa ini
banyak kita temui pejabat negara yang korupsi, polisi yang bisa disuap, dan
pengajar yang asal-asalan mendidik.
Mengapa penulis memilih sekolah dasar? Egan (UNESCO, 1991)
mengungkapkan bahwa perkembangan minat dan kepedulian anak terhadap nilai
berlangsung dalam empat tahap, yaitu: tahapan mitos, romantis, filosofis, dan
4
ironis. Tahap mitos berlangsung pada usia 5-10 tahun, yakni pada usia anak
sekolah dasar. Pada tahapan ini, anak belajar, bermain, dan bercerita
menggunakan perasaannya sehingga nilai moral berupa baik-buruk, bagus-jelek,
sayang-benci, suka dan tidak suka menjadi fokus utama perhatian mereka. Oleh
karena itu, apabila nilai yang kita tanamkan salah, akibatnya akan fatal di
kemudian hari. Selain itu, pendidikan karakter yang ditanamkan sejak usia
sekolah dasar akan menjadi landasan kuat sebagai pijakan untuk berpikir,
memutuskan, dan bertindak anak di masa depan.
HESPro memiliki beberapa program di dalamnya antara lain: Homey
Learning, Iam Smart because Iam Honest, Everyone is Number One, Excellent
Edumorality, dan School Bank. Beberapa sub program yang dimiliki oleh HESPro
(Homey Elementary School Program) adalah:
1. Homey Learning
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nana Sudjana (1989), hasil
belajar siswa berhubungan erat dengan minat belajarnya. Salah satu faktor internal
yang turut menentukan keberhasilan belajar siswa adalah minat. Siswa yang
memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung memberikan perhatian yang
lebih besar. Oleh karena itu, diperlukan suatu kegiatan khusus yang berguna untuk
membangkitkan minat siswa sebelum proses pembelajaran dimulai.
Pada hakikatnya, minat siswa dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya
adalah kondisi lingkungan belajar yang nyaman. Lingkungan belajar seperti ini
dapat diciptakan dengan metode pembelajaran yang menyenangkan (joyfull
instruction). Menurut Mulyasa (2006), pembelajaran menyenangkan (joyfull
instruction) merupakan suatu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat
suatu kohesi yang kuat antara guru dan siswa, tanpa ada perasaan terpaksa atau
tertekan. Di tingkat sekolah dasar, guru dapat lebih mudah membangun kedekatan
dengan peserta didik sebab sekolah dasar masih menggunakan sistem guru kelas,
yaitu satu guru mengajar berbagai mata pelajaran di satu kelas yang dipegangnya,
kecuali pada mata pelajaran tertentu seperti pendidikan agama dan penjaskes.
5
Program Homey learning diimplementasikan dalam durasi kurang lebih 15
menit sebelum memulai kegiatan belajar. Pada dasarnya, anak usia sekolah dasar
sangat suka bermain. Guru dapat menggunakannya untuk melakukan suatu
kegiatan non-materi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi peserta didik
seperti membacakan cerita, berdialog menarik, menulis diary bersama, bermain
kata, atau memainkan permainan lain. Inti dari kegiatan ini adalah membuat siswa
merasa senang dan antusias.
2. Iam Smart because Iam Honest
Program ini ditujukan untuk membasmi budaya mencontek yang sudah
keterlaluan merusak moral generasi muda bangsa. Menurut Bower (1964) dalam
artikel yang ditulis oleh Alhadza (2004), Cheating adalah perbuatan yang
menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan yang sah/terhormat yaitu
mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis.
Budaya mencontek akan menghasilkan generasi yang malas dan amoral.
Nilai yang ingin ditanamkan pada program ini adalah kejujuran. Guru
harus menanamkan prinsip bahwa siswa yang pandai adalah siswa yang
mengerjakan ujian dengan jujur, dan berarti pula siswa yang bodoh adalah siswa
yang mencontek saat ujian. Namun, alangkah baiknya apabila guru
menyampaikannya dengan ungkapan pertama karena ungkapan kedua dapat
mempengaruhi harga diri anak. Di usia ini, penanaman nilai harus disertai dengan
alasan mengapa nilai tersebut harus mereka miliki. Menurut Otib Satibi Hidayat
(2005), bercerita dapat dijadikan metode untuk menyampaikan nilai-nilai yang
berlaku dalam masyarakat. Guru dapat membacakan cerita dongeng yang
mengandung nilai kejujuran atau artikel yang berhubungan dengan bahaya
mencontek guna memberikan siswa alasan yang kuat mengapa mereka harus
berbuat jujur. Adapun cara yang lain yaitu dengan membiasakan siswa berkata
jujur, seperti dengan meminta mereka bercerita tentang kegiatan yang biasa
mereka lakukan sepulang sekolah. Program ini dapat diimplementasikan di awal
atau di akhir kegiatan belajar sebanyak 3 kali selama seminggu.
6
Untuk menunjang efektifitas penanaman nilai kejujuran, tidak ada
salahnya memberikan hukuman bagi siswa yang ketahuan mencontek. Akan tetapi
pemberian hukuman haruslah dipertimbangkan secara matang. Menurut Yanuar A
(2012), pemberian hukuman yang ditekankan pada sisi edukatif dapat membentuk
pribadi anak yang bertanggungjawab. Salah satu hukuman yang bernilai edukatif
adalah menyuruh anak membersihkan lingkungan sekolah atau menceritakan
kembali isi dari sebuah buku. Selain berfungsi sebagai hukuman, kegiatan tersebut
dapat pula meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan menambah
wawasan.
2. Everyone is Number One
Dewasa ini, sistem rangking banyak diterapkan di sekolah-sekolah. Selain
bertujuan untuk mengukur hasil belajar, sistem rangking juga digunakan dengan
alasan memotivasi siswa agar semakin giat belajar. Pemberian motivasi belajar
memang sangat penting. Namun, penerapan sistem rangking pada anak sekolah
dasar bisa memiliki dampak yang fatal. Menurut Piaget (Hudoyo, 1990),
perkembangan berpikir anak SD masih berada dalam tahap konkret operasional.
Mereka belum mampu mengerti mengenai konteks abstrak kompetisi yang
bertujuan untuk memotivasi diri. Apa yang mereka pahami dalam sistem rangking
adalah suatu keharusan untuk bersaing dengan teman-temannya. Padahal, setiap
anak memiliki potensi berbeda-beda yang tidak seharusnya disamaratakan lalu
dibandingkan satu sama lain. Sistem rangking mutlak harus dihilangkan.
Cara terbaik memotivasi siswa adalah dengan meningkatkan harga dirinya.
Coopersmith (1967) mendefinisikan harga diri sebagai hasil penilaian individu
terhadap diri mengenai kemampuan, kesuksesan, dan keberhargaan yang
diungkapkan dalam sikap-sikap dan tingkah laku baik positif, maupun negatif.
Seorang anak yang memiliki harga diri positif akan lebih percaya diri dan
termotivasi untuk berprestasi.
Program Everyone is Number One dapat menjadi suatu solusi dalam
meningkatkan harga diri siswa. Konsep program ini diadaptasi dari Gerakan Kelas
Inspirasi. Kelas Inspirasi merupakan gerakan para profesional turun ke Sekolah
7
Dasar (SD) selama sehari, berbagi cerita dan pengalaman kerja juga motivasi
meraih cita-cita. Namun dalam konteks ini, para siswa sendiri yang nantinya akan
maju bergantian menceritakan tentang bakat, minat, prestasi, dan cita-citanya di
hadapan teman-temannya. Misalnya seorang siswi yang memiliki hobi memasak
dapat menceritakan tentang kesehariannya yang suka membantu ibunya memasak
di dapur, seorang siswa yang pandai matematika dapat berbagi trik belajar yang
biasa ia gunakan, atau siswa yang disukai teman-temannya dapat membagikan
tips bagaimana cara menjadi teman yang baik, dan lain-lain. Di kelas program ini,
setiap anak pasti memiliki keistimewaannya masing-masing untuk dibagikan.
Guru berperan untuk mengawasi dan menyimpulkan.
3. Excellent Edumorality
Pada hakikatnya pendidikan nilai di sekolah dasar merupakan tanggung
jawab seluruh mata pelajaran (Aeni, 2009). Setiap guru memiliki tanggungjawab
yang sama dalam menyampaikan pendidikan nilai melalui hidden curiculum.
Hanya saja, mata pelajaran PAI dan PKN memiliki visi, misi, dan tujuan utama
yang berkaitan erat dengan pendidikan moral. Kompetensi utama yang dituntut
tidak saja aspek kognitif, akan tetapi yang lebih penting adalah aspek afektif dan
psikomotorik (Turhan, 2006). Oleh karenanya, kedua mata pelajaran tersebut
memerlukan perhatian yang lebih serius.
Sejauh ini ada banyak sekali metode mengajar yang telah disosialisasikan
melalui workshop dan pelatihan kepada guru-guru kedua mata pelajaran tersebut.
Dalam kurikulum KTSP, guru bebas menentukan metode mengajar mana yang
akan mereka gunakan dengan mempertimbangkan jenis materi dan kondisi siswa.
Disamping itu, guru dapat pula mengombinasikan dua atau lebih metode
mengajar. Salah satu metode yang dapat dikombinasikan dengan metode mengajar
manapun adalah metode Problem Based Learning (PBL).
Program Excellent Edumorality bertujuan mengefektifkan pencapaian
tujuan pembelajaran nilai melalui mata pelajaran PAI dan PKN dengan
menggunakan metode Problem Based Learning. PBL adalah suatu metode
pengajaran kooperatif berdasarkan pada prinsip penggunaan permasalahan sebagai
8
titik awal pengadaan pengetahuan baru. Dalam program ini, guru tetap memiliki
kebebasan untuk menentukan metode mengajarnya, hanya saja dalam setiap bab
yang disampaikan guru harus mengusahakan penerapan metode PBL.
Pembiasaan metode PBL dilakukan bukannya tanpa alasan. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan Piaget (Hudoyo, 1990), perkembangan berpikir anak
SD ternyata masih berada dalam tahap konkret operasional. Pada usia ini anak
sudah mampu berfikir logis untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Hanya
saja mereka belum mampu berfikir formal dan abstrak. Oleh karena itu,
pendekatan dengan hal-hal konkret akan sangat membantu dalam proses
pembelajaran. Problem Based Learning dapat mendorong siswa berpikir kreatif
dalam menemukan pemecahan masalah di kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh,
dalam suatu kelas PAI yang membahas mengenai ibadah di bulan Ramadhan,
guru dapat memberi permasalahan kepada siswa seperti meminta mereka
menyebutkan macam-macam kegiatan menarik yang dapat mereka lakukan
menjelang berbuka puasa dengan memberikan alasannya.
4. School Bank
Hasil studi PIRLS pada tahun 2006, menunjukkan bahwa (rata-rata)
kemampuan siswa Indonesia di bidang literasi membaca berada pada urutan 41
dari 45 negara yang berpartisipasi (Mullis, dkk, 2007). Hal ini menandakan
bahwa minat membaca di kalangan siswa masih sangat rendah.
Secara psikologis, masa kanak-kanak adalah masa keemasan dalam
perkembangan anak. Pada usia ini anak mulai mulai peka dan kritis dan sudah
memiliki kesiapan untuk belajar (Mashar,2011). Oleh karenanya, masa kanakkanak adalah waktu yang paling strategis untuk mengembangkan minat baca
siswa.
Salah satu faktor yang menjadi penyebab rendahnya minat baca adalah
keterbatasan buku bacaan yang menarik sekaligus mendidik. School Bank dapat
menjadi jalan keluarnya karena mengintegrasikan penanaman budaya cinta buku
dengan kebiasaan menabung. Melalui program ini, pihak sekolah mengkordinir
siswa yang ingin berpartisipasi untuk menabung sebesar seribu rupiah per hari di
9
koperasi sekolah. Sebulan atau dua bulan kemudian, uang yang telah terkumpul
digunakan untuk membeli buku. Buku tersebut adalah milik pribadi siswa. Siswa
dapat membawanya pulang dan membacanya di rumah. Apabila buku sudah tidak
terpakai lagi, siswa dapat menyumbangkannya ke perpustakaan.
Koperasi sekolah dapat bekerja sama dengan agen penerbit buku anak di
kotanya untuk memudahkan siswa memilih buku apa saja yang ingin mereka beli.
Biasanya siswa laki-laki akan lebih menyukai bacaan seputar petualangan,
misterius, sejarah, hobi, dan olahraga, sedangkan anak perempuan lebih memilih
cerita binatang, puisi, dongeng fantasi, fiksi realistis, dan lain-lain. Adapun
keuntungan yang diperoleh pihak koperasi berasal dari sekian persen dana yang
disisihkan dari total tabungan siswa.
Kelima program unggulan HESPro tersebut diharapkan dapat menciptakan
suasana belajar di sekolah seperti ‘di rumah’ yang nyaman dan kondusif bagi
perkembangan generasi emas bangsa. Diharapkan pula HESPro tidak hanya dapat
diterapkan di sekolah dasar, tetapi juga di tingkat pendidikan sekolah menengah.
Sebab perlu dilakukan pembiasan bagi hal-hal positif agar tercipta budaya baru
yang lebih baik. HESPro juga tidak akan mampu meraih tujuannya, apabila tidak
didukung oleh berbagai pihak, terutama orang tua dan guru.
Kesimpulan yang dapat diambil dari esai ini adalah di era ini Indonesia
belum mampu mencapai tujuan pendidikan nasional. Hal tersebut nampak pada
menjamurnya budaya-budaya negatif di lingkungan sekolah. Dalam rangka
menyongsong Indonesia Emas 2045, pemerintah telah melakukan berbagai upaya
untuk memperbaiki kemerosotan moral yang merajalela, salah satunya dengan
Gerakan Penanaman Budi Pekerti. Sementara itu, HESPro (Homey Elementary
School Program) dinilai dapat menjadi pelengkap bagi PBP untuk mencapai
tujuan. HESPro terdiri dari 5 sub program yakni Homey Learning; Iam Smart
because Iam Honest; Everyone is Number One; Excellent Edumorality; dan
School Bank. Kelima program tersebut diharapkan dapat menghapus budaya
negatif di dunia pendidikan Indonesia serta dapat mewujudkan suasana belajar di
sekolah yang nyaman dan kondusif sebagaimana layaknya ‘di rumah’ bagi
generasi emas bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
A, Yanuar. 2012. Jenis-jenis hukuman edukatifuntuk anak SD. Jogjakarta : Diva
Press
Aeni, A.N. 2009. Pendidikan Nilai di SD Tanggung Jawab Seluruh Bidang Studi.
Makalah pada Konferensi Pendidikan Dasar (Kopendas) 1 Tingkat Internasional
10- 11 Oktober 2009, Sumedang
Alhadza, Abdullah. 2004. Masalah Perilaku Menyontek (cheating) Di Dunia
Pendidikan. http://depdiknas.go.id/jurnal/38 . Diakses pada tanggal 19 Agustus
2015
Coopersmith, Stanley. 1967. The Antecedents ofSelfEsteem. San Fransisco: W.
H. Freeman
Hudoyo, Herman. 1990. Strategi Pembelajaran Matematika. Malang : IKIP
MALANG
Lickona, Thomas. 1991. Educating for Character: How Our School Can Teach
Respect and Responsibility. New York, Toronto, London, Sydney, Aucland:
Bantam books
Mashar, Riana. 2011, Emosi Anak Usia Dini dan Strategi Pengembangannya,
Jakarta: Kencana
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. 2015. Peraturan Menteri Nomor 23 Tahun
2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia
Mullis, I.V.S.; Martin, M.O.; Kennedy, A.M.; & Foy, P. 2007. PIRLS 2006
International Report. Boston: TIMSS & PIRLS International Study Center
Mulyasa. 2006. Manajemen berbasis Sekolah, Konsep Strategi dan Implementasi.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Satibi H, Otib. 2000. Metode Pengembangan Moral dan Nilai-nilai Agama.
Jakarta: Universitas Terbuka
Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar
Baru Algensindo
Turhan, Yani. 2006. Dialektika Seputar Pendidikan. Surabaya: Unesa University
Press
UNESCO. 1991. Values and Ethics and the Science and Technology Curriculum.
Bangkok: Principal Regional Office for Asia and the Pasific. Winecoff, H.L. &
Bufford, C. (1985). Toword Improved Instruction: A

 

*Masih harus banyak belajar untuk menulis esai yang baik. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan-kesalahan pada tulisan diatas



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :