Honesty Nurizza Pinanti

Semangat Excellent With Morality!

Perpustakaan Kota: Solusi Modernitas Kota Kecil Kami

18 December 2015 - dalam Artikel Populer Oleh honesty-nurizza-p-fst14

Kota kecil kami terletak di ujung barat Provinsi Jawa Timur, tepatnya 170,3 kilometer dari ibu kota provinsi. Karena letaknya yang strategis (menghubungkan Kota Yogjakarta dan Surabaya), kota kami dijuluki sebagai pusat perdagangan dan industri. Pernah dengar istilah Kota Gadis? Ya, itulah yang kini sedang kami bicarakan.

            Kota Madiun yang dahulu terkenal senyap, damai, dan ramah perlahan mulai berganti wajah menjadi metropolitan. Dalam kurun waktu kurang dari lima tahun, pusat perbelanjaan di kota kami jumlahnya menjadi dua kali lipat, warung makan impor aneka merek hampir semuanya sudah available, juga hotel berbintang empat kini telah dinobatkan menjadi bangunan paling tinggi. Rupanya, Pemkot Madiun sedang giat-giatnya menggaet investor demi kemajuan perekonomian masyarakat. Hal tersebut telah membuahkan hasil berupa naiknya pertumbuhan ekonomi Kota Madiun di level 8,07 persen pada tahun 2014 lalu. Dengan angka ini, Kota Madiun dapat menyalip angka pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya sebesar 5,78 persen.

            Hal serupa tak nampak pada bangunan putih sederhana yang berdiri di Jalan H. Agus Salim No.39, Kota Madiun. Meski terletak di jalan yang strategis sebab berdekatan dengan Alun-Alun Kota, tempat ini seakan diabaikan keberadaannya. Gedung perpustakaan kota rupanya bukanlah tempat favorit kami menghabiskan waktu senggang. Jangan tanya mengapa. Sebagaimana kota lainnya, mall-mall kami dibangun seribu kali lebih megah dan bagus daripada gedung sepi yang (sedikit) menyeramkan itu.

Setiap harinya, rata-rata kunjungan di Perpustakaan Kota Madiun masih tergolong minim yakni sekitar 50 pengunjung di hari kerja dan ±200 pengunjung di akhir pekan. Terdapat banyak faktor yang menjadi penyebab, diantaranya adalah fasilitas berbasis teknologi yang kurang memadai, suasana yang kurang nyaman, pengelola yang kurang kreatif dan interaktif, serta upaya publikasi berikut dana yang minim. Pihak perpustakaan kota bukannya tak berbuat apa-apa. Pada bulan Mei 2015 lalu, pihak perpustakaan telah mengadakan upaya dengan menghadirkan program peningkatan minat baca dalam rangka memperingati hari buku serta publikasi melalui radio dan pamflet. Namun, hal ini tidak banyak merubah keadaan. Mall dan kafe tetap masih jauh lebih banyak pelanggannya daripada perpustakaan kota.

Gencarnya pembangunan  pada bidang industri dan perdagangan yang terus dilakukan oleh Pemkot Madiun memang sangat menguntungkan baik bagi masyarakat yang berada di dalam maupun di luar Madiun. Dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, serapan tenaga kerja akan terus bertambah sehingga kesejahteraan masyarakat pun akan ikut terangkat. Akan tetapi, pembangunan yang dilakukan melebihi kapasitas dapat menjadi bumerang. Semisal, Kota Madiun yang kini sudah memiliki lima mall akan menambah lagi pembangunan mall nya di beberapa titik. Menjamurnya mall di sebuah kota secara tidak langsung dapat menanamkan budaya konsumerisme dan hedonisme pada anggota masyarakatnya. Masyarakat dengan budaya seperti ini akan sulit survive di dunia kerja. Akibatnya, peluang kerja yang besar tidak dapat dimanfaatkan dengan baik sehingga dapat dengan mudah diambil alih oleh angkatan kerja luar daerah.  Dengan demikian, pemerintah kota telah gagal menjamin kesejahteraan masyarakatnya sendiri. Oleh karenanya, peran kontrol masyarakat pada pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah sangatlah penting. Hal yang tidak banyak disadari kebanyakan orang, perpustakaan kota dapat menjembatani peran kontrol ini.

Selain berfungsi sebagai tempat mengabadikan koleksi sumber informasi, perpustakaan kota juga memegang fungsi sebagai ruang publik. Menurut Jurgen Habermas, ruang publik merupakan sebuah ruang bersifat abstrak maupun fisik yang berperan membentuk opini masyarat yang bebas dari kendali pemerintah. Ruang publik didasarkan pada hakikat manusia sebagai mahkluk sosial yang memiliki kebebasan dalam mengemukakan pandangan dan pemikiran. Perpustakaan menawarkan banyak pengetahuan dan informasi dengan akses yang mudah bagi kalangan masyarakat manapun. Hal senada juga diungkapkan oleh Yohannes Sumaryanto dalam bukunya yang berjudul “Ruang Publik Jurgen Habermas dan Tinjauan atas Perpustakaan Umum Indonesia” yakni apabila Habermas berpandangan bahwa ruang publik dibentuk sebagai wadah perjuangan untuk melawan himpitan kekuasaan, perpustakaan didirikan dengan salah satu tujuan untuk melawan kebodohan dan ketertinggalan pengetahuan masyarakat. Oleh karenanya, perpustakaan kota sebagai ruang publik merupakan suatu jawaban bagi permasalahan besar yang berpotensi hadir di Kota Madiun.

            Sebagai ruang publik, perpustakaan kota dapat membentuk masyarakat yang cerdas dan peka pada kondisi sekitar. Ketika masyarakat telah begitu akrab dengan buku dan ilmu, maka tak akan sulit melakukan upaya pemberdayaan sebab telah munculnya kesadaran diri. Ketika masyarakat menjadi tak terpisahkan dari kebiasaan membaca, maka mereka akan sangat peka melihat permasalahan yang ada. Ketika masyarakat menjadi banyak tahu, maka mereka akan secara aktif bersinergi dengan pemerintah untuk mengawal dan membantu.

Di era modern ini, sudah saatnya perpustakaan kota berbenah untuk meninggalkan kesan kuno yang telah lama melekat. Terdapat beberapa saran perubahan dapat dilakukan diantaranya dengan mendesain bangunan perpustakaan menjadi lebih ‘ramah’, membawa wajah perpustakaan ke jendela dunia maya, mengajak perpustakaan mengetuk tiap pintu rumah dan kelas, juga hal yang tak kalah penting adalah memastikan bagian dalam perpustakaan memiliki kualitas yang canggih dan bersaing.

            Pentingnya fungsi perpustakaan kota sebagai ruang publik tidak bisa diabaikan begitu saja oleh Kota Madiun. Dengan deru pembangunan yang kian hari kian menjadi, kota kecil kami hanya memiliki dua kemungkinan masa depan. Menjadi kota yang semakin kokoh dengan rakyat yang sejahtera atau kota yang dikendalikan dengan masyarakat yang tidak berdaya. Sebelum kemungkinan terburuknya terjadi, maka mewujudkan masyarakat yang terbebas dari kebodohan adalah kewajiban. Pemerintah dan masyarakat daerah harus secara aktif berupaya mengangkat derajat perpustakaan sebab berpotensi sebagai solusi permasalahan modernitas.

 

*Semoga Bermanfaat

*Semangat Mengispirasi



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :