Honesty Nurizza Pinanti

Semangat Excellent With Morality!

KOKOBLUE (Koperasi Kakao-Bluder) sebagai Upaya Aktivasi Ekonomi Kreatif Guna Menyelaraskan Potensi Perkebunan Kakao dan Kuliner Daerah Kabupaten Madiun

13 November 2014 - dalam Essai Oleh honesty-nurizza-p-fst14

            Perkebunan Kakao merupakan salah satu sektor usaha yang berperan penting dalam perekonomian nasional. Indonesia tercatat sebagai negara pemasok Kakao terbesar (13,6%) setelah Ghana (38,3%) dan Pantai Gading (20,2%). Permintaan Kakao dunia dari tahun ke tahun cenderung mengalami kenaikan. Hingga tahun 2011, ICCO (International Cocoa Organization) memperkirakan konsumsi Kakao dunia dapat mencapai 4,1 juta ton. Hal ini dapat dilihat sebagai suatu peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan sektor tersebut.

            Berdasarkan data Ditjenbun (2012), Jawa Timur menempati urutan kelima penghasil Kakao terbesar dengan hasil panen sebesar 23.056 ton. Sentra penanaman Kakao di Jawa Timur  terbagi atas; Kabupaten Madiun (4.184 Ha), Pacitan (3.619 Ha), Trenggalek (3.093 Ha), Blitar (2.544 Ha), serta 16 kabupaten lain seperti Ponorogo, Malang, dan lain-lain.

Kabupaten Madiun sebagai sentra penghasil Kakao terbesar di Jawa Timur, dapat memproduksi hingga 677,5 ton Kakao pada tahun 2012. Hasil panen Kakao yang melimpah ini dijual oleh petani kepada pedagang pengepul di tingkat desa, lalu berlanjut ke pedagang kecamatan, dan pedagang besar. Kemudian, pedagang besar akan menyetorkannya pada pabrik pengolah kakao di Blitar. Jalur tataniaga yang cukup panjang ini rupanya disebabkan oleh minimnya kualitas infrastruktur dalam pendistribusian ke pihak industri. Akibatnya, terjadi kesenjangan harga yang cukup tinggi pada tingkat petani dan pedagang besar. Dalam hal ini, pihak petani lah yang dirugikan.

            Sebagai upaya peningkatan kesejahteraan hidup petani Kakao di Kabupaten Madiun, diperlukan suatu lembaga yang dapat mendayagunakan petani-petani agar mampu melihat peluang besar di balik mata pencaharian mereka. Petani-petani Kakao tentunya tidak akan bisa maju jika hanya mengandalkan penjualan kepada pengepul saja. Mereka memerlukan suatu inovasi agar apa yang mereka hasilkan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

            Suatu bentuk kelembagaan yang memiliki potensi pendayagunaan tersebut adalah koperasi. Sejauh ini, pencanangan koperasi Kakao di Kabupaten Madiun masih sangat minim. Tindak lanjut dari koperasi yang telah berdiri pun hanya sebatas mengandalkan penjualan pada pengepul dan pengolahan di pabrik coklat mini, Desa Segulung, Kecamatan Dagangan yang berpenghasilan sangat minim. Usaha ini tentu tak banyak membantu petani.

            KOKOBLUE merupakan suatu konsep koperasi yang tergolong baru dan inovatif karena tidak sekadar mengumpulkan dan memfasilitasi petani untuk mendayagunakan tanaman Kakaonya, tetapi juga membuka peluang usaha baru yang memiliki nilai jual tinggi sehingga memiliki daya saing di pasaran. KOKOBLUE membawa konsep pemanfaatan biji Kakao petani sebagai bahan baku pembuatan roti bluder.

Roti bluder merupakan roti khas Madiun yang kini tengah naik daun dan banyak digemari pengunjung dari luar kota. Roti yang bercita rasa lembut ini memiliki banyak varian lezat seperti coklat, keju, pisang coklat, strawberi, dan lain-lain. Roti bluder menjadi kurang terkenal karena masih diproduksi dalam skala kecil pada industri rumahan. Padahal, kalau saja ada pihak yang mau memproduksinya dalam skala besar dan memasarkannya lebih luas, bukannya tidak mungkin roti bluder dapat mengangkat nama Madiun dan menambah devisa daerah.

            Kesempatan emas ini dipandang KOKOBLUE sebagai suatu cara meningkatkan kesejahteraan petani Kakao dan masyarakat sekitarnya. Melalui koperasi ini, petani, keluarga petani, dan masyarakat sekitar dapat diberdayakan untuk memproduksi roti bluder dengan skala besar yang akan dipasarkan di dalam dan luar kota. Mekanismenya berupa; petani menjual Kakaonya kepada koperasi kemudian anggota koperasi lain yaitu keluarga petani dan warga sekitar mengolahnya menjadi roti bluder. Lalu, pemasarannya dapat dilakukan secara online dan ke toko-toko kue yang menjamur di dalam dan luar kota. Kegiatan pemasaran dapat dilakukan oleh remaja usia produktif putus sekolah dan pengangguran. Keuntungan yang diperoleh kemudian dibagi sesuai kesepakatan bersama kepada para anggota, termasuk petani yang membantu  proses produksi dan pemasaran.

            Modal mendirikan koperasi ini dapat diperoleh dari pinjaman kredit dari Dinas Koperasi Kabupaten Madiun yang kebetulan saat ini tengah gencar-gencarnya membudiyakan koperasi Kakao. Bahkan, jika nantinya ide KOKOBLUE ini mendapat respons positif dari Pemda, kemajuan koperasi tidaklah sulit dicapai. Pemerintah daerah dapat berupaya membantu promosi roti bluder petani Kakao ini lewat event pameran atau dengan menyajikannya di setiap kesempatan bertemu dengan pejabat luar daerah. Selain itu, modal juga dapat diperoleh dari pinjaman bank, donatur, atau investor swasta yang melihat peluang yang sama atas usaha ini.

            Demi keberlangsungan usaha ini, diperlukan kemauan dan tekad yang kuat dari seluruh anggota koperasi agar mampu bertahan menghadapi resiko bisnis yang mungkin terjadi. Pemerintah juga diharapkan dapat memberikan dukungan penuh agar terwujud masyarakat yang mandiri dan kreatif secara ekonomi.

 

 

 

Referensi:

Andaya Nia, Shalimar, 2014. Kelembagaan Ekonomi Koperasi Bagi Petani Kakao diakses dalam http://cyber.kamarasta.web.id/materipenyuluhan/detail/9081/kelembagaan-ekonomi-koperasi-bagi-petani-kakao (30 Oktober 2014)

Andy, 2013. Cara Mudah Memasarkan Usaha Makanan Ringan diakses dalam http://bukusaku-catatanku.blogspot.com/2013/05/cara-mudah-memasarkan-usaha-makanan.html (31 Oktober 2014)

Anonim, 2011. Koperasi Kakao Organik Fairtrade, CoCoA Aceh Utara diakses dalam http://cacaoorganicfairtrade.blogspot.com/2011/07/koperasi-kakao-organik-fairtrade-cocoa.html ( 31 Oktober 2014)

Anonim, 2014. Komoditas Kakao Harus Diperhitungkan diakses dalam http://bappeda.jatimprov.go.id/2014/04/14/komoditas-kakao-harus-diperhitung/ (31 Oktober 2014)

Arthur F, Riyan, 2013. Analisis Tataniaga Biji Kakao di Kecamatan Dagangan, Kare, dan Gemarang Kabupaten Madiun. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Managemen Institut Pertanian Bogor

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :