Honesty Nurizza Pinanti

Semangat Excellent With Morality!

Jantung, Otaknya Emosi

02 October 2014 - dalam Sains Oleh honesty-nurizza-p-fst14

Jantung merupakan salah satu organ tubuh yang berfungsi penting dalam menyokong kehidupan manusia. Organ jantung berfungsi memompkan darah yang kaya akan oksigen ke seluruh tubuh demi berlangsungnya sistem respirasi dalam sel. Selain itu, jantung juga memompakan darah yang kaya akan karbondioksida menuju ke paru-paru untuk dipertukarkan kandungannya dengan oksigen di alveolus agar dapat kembali digunakan dalam mekanisme terpenting tubuh kita, respirasi sel. Namun, belum banyak yang tahu bahwa fungsi pokok jantung tak sekadar itu saja. Jantung ternyata memiliki fungsi pokok lain yang sama pentingnya dengan fungsinya memompakan darah. 

            Jantung adalah muara emosi. Jantunglah yang selama ini kita sebut sebagai perasaan. Hal ini bukan sekadar anggapan atau mitos belaka. Bahkan, fakta ini sudah cukup lama terungkap. Pada zamannya, Aristoteles, salah satu ilmuan biologi mengungkapkan bahwa jantung adalah pusat emosi dan pemikiran. Pendapatnya ini didasarkan pada filsafat kuno yang dipelajarinya. Pada era modern saat ini, para saintis dunia pun mengungkapkan hal yang sama melalui serangkaian penelitian yang telah mereka lakukan. Para ahli fisiologis menerangkan bahwa jantung memiliki sistem komunikasi yang lebih baik dengan otak daripada organ tubuh kita yang lain. DR J. Andrew Armour memastikan adanya sebuah “otak” yang sangat rumit di dalam Jantung. Di dalam Jantung kita terdapat lebih dari 40.000 neuron yang bekerja dengan presisi yang sangat tinggi untuk mengendalikan detak jantung, produksi hormon, dan penyimpanan informasi. Selanjutnya informasi yang diterimanya dikirim ke otak. Informasi ini memegang peranan vital dalam kesadaran dan pemahaman. Rollin McCraty dan Mike Atkinson melakukan penelitian yang dipublikasikan di pertemuan tahunan Pavlovian Society. Mereka menemukan adanya hubungan antara jantung dan kesadaran. Mereka membuktikannya dengan mengukur aktivitas elektromagnetik jantung dan otak saat seseorang berusaha memahami sesuatu. Mereka menemukan bahwa saat performa jantung berada pada level rendah, kesadarannya pun juga akan rendah.

            Selain melalui penelitian para ilmuan, jantung sebagai pusat emosi juga dapat dibuktikan kebenarannya lewat apa yang kita alami sehari-hari. Misalnya, ketika kita merasa sedih, seringkali secara spontan kedua tangan kita akan mendekap erat dada kita, tempat jantung berada. Atau ketika kita sedang sakit hati dan menangis, kita akan merasakan sedikit rasa perih di sekitar dada kita. Semua itu menjelaskan keterkaitan erat antara jantung dan emosi/perasaan. Hal lain yang dapat memperkuat fakta ini adalah fenomena ikatan batin antar dua orang yang memiliki hubungan emosi yang dekat semisal, hubungan saudara kembar, hubungan orang tua dan anak, hubungan suami dan istri, dll. Fenomena tersebut dapat dikaitkan dengan fungsi jantung sebagai sistem komunikasi yang ternyata juga mampu berkomunikasi dengan jantung-jantung lain. Alasan logisnya, jantung memiliki medan magnet yang sangat kuat sehingga dapat mempengaruhi keadaan di lingkungan sekitar dan seluruh tubuh.

Penemuan lain yang cukup mengejutkan datang dari seorang pasien yang telah menjalani cangkok jantung dan menggunakan jantung buatan.  Pada 11 Agustus 2007, koran Washington Post memuat laporan tentang Peter Houghton yang melakukan operasi pencangkokan jantung buatan. Dia berkata, “Perasaanku telah berubah. Saya tidak dapat mengetahui apa yang saya benci dan apa yang saya cintai, bahkan saya tidak punya perasaan apapun kepada cucu-cucu saya”. Bukankah ini semakin membenarkan bahwa jantung adalah apa yang selama ini kita sebut sebagai perasaan.

Sayangnya, sebagian besar masyarakat kita justru beranggapan lain. Mereka cenderung berpikiran bahwa pusat pengatur perasaan kita adalah organ hati, bukannya jantung. Sering kali masyarakat terkecoh dengan istilah “patah hati” dan “sakit hati”, sehingga sering menghubung-hubungkan antara perasaan dan hati. Padahal, dua frasa konotatif diatas memiliki arti sebenarnya yaitu, sedih. Faktanya, tidak ada korelasi apapun antara organ hati dan perasaan. Fungsi organ hati adalah menawar racun/detoksifikasi tubuh, pengontrol kadar gula darah, tempat perombakan sel darah merah, membantu proses regulasi, dll. Dalam ragam Bahasa Inggris pun, kata “heart” merujuk pada jantung, sedangkan kata “liver” merujuk pada hati. Kata “heart” tentunya lebih sering digunakan untuk menyimbolkan perasaan daripada kata “liver”, bukan?. Begitu pula pada ragam Bahasa Arab. Kata “Qalbu” merujuk pada jantung, bukan hati. Mulai saat ini, ada baiknya kita mencoba memahami dan mengerti kebenaran yang ada, yaitu jantung sebagai pusat emosi dan pemikiran manusia.

Jantung manusia ternyata bukan sekadar organ yang memiliki fungsi fisiologis, jantung juga mempunyai fungsi psikologis yaitu, pusat pengolahan emosi dalam diri manusia. Jantung haruslah dijaga baik-baik dari dalam maupun dari luar. Menjaga jantung dari luar dapat dilakukan dengan mengikuti pola hidup yang baik, makan-makanan bergizi yang menyehatkan jantung, rajin berolahraga, dan beraktivitas. Menjaga jantung dari dalam, mungkin terlihat lebih rumit. Kita harus berupaya untuk memperbanyak ibadah, mengingat Allah SWT, banyak-banyak berfikir positif, dan belajar untuk sabar dan ikhlas. Karena fungsinya yang amat penting dan jika rusak tak ada satu pun yang dapat menggantikannya, jagalah jantung kita baik-baik sebagai tanda rasa syukur kita yang pada Sang Khalik yang telah menciptakan jantung yang teramat sempurna desaign dan fungsinya untuk kita.

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :